Sukses dan Terkenal Ala Warung Lian

Siapa nyana, hanya bermula dari berjualan nasi pecel di atas mobil, Sunarlian kini mampu mengelola dua rumah makan prasmanan yang menyajikan tak kurang dari 50 jenis masakan khas Jawa yang terkenal di Malang.

sunarlian-waroeng-lian-berawal-dari-jualan-pecel-di-mobilBagi anda yang hobi wisata kuliner dan penggemar berat aneka masakan khas Jawa, belum lengkap rasanya kalau belum mampir ke rumah makan prasmanan warung “Lian”, yang ada di kota Malang, Jawa Timur. Ada sekitar 50 jenis masakan khas Jawa yang siap memanjakan lidah anda. Soal rasa jangan ditanya, karena warung tersebut memiliki seorang koki handal yang betul bagaiamana memasak aneka resep masakan khas jawa. Dialah Sunarlian yang tidak lain adalah pemilik warung “Lian” ini.

Selain rasanya enak, harga tiap porsi makanan di warung “Lian” tergolong murah, berkisar Rp 4.500 sampai Rp. 12.500, tergantung dari lauk yang dipilih. Misal, satu porsi nasi pecel dihargai Rp 5.000, nasi urap Rp 4.500, nasi rames Rp 7.000, nasi krengsengan 8.500, nasi lodeh ikan tenggiri Rp 10.000 dan nasi balado mujaer Rp 12.500. Semua harga makanan dan minuman terpampang jelas di daftar menu. Untuk menu makanan yang dipilih sendiri oleh pembeli, harga akan disesuaikan.

Di warung “Lian” pembeli bisa mengambil sendiri makanan sesuai selera untuk dinikmati di tempat atau dibawa pulang. Pelanggannya sangat banyak, datang berbagai lapisan masyarakat mulai dari ibu rumah tangga sampai pekerja kantoran. Tidak hanya dari kota Malang saja, banyak pelanggan berasal dari luar Malang yang memang sengaja mampir ke warung “Lian”.
Keberhasilan bisnis warung makanan ala prasmanan yang diraih oleh Sunarlian ini tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses yang panjang dan berliku. Awalnya, Lian, begitu ia biasanya dipanggil, ditemani oleh suaminya Bambang Suryantoro, merintis usaha berjualan nasi pecel lebih dari 20 tahun lalu. Warung pecel pertamanya berdiri di dekat kantor PDAM kota Lawang, sekitar taun 1989. Hal itu dilakukan selain karena ingin mengembangkan hobi memasaknya, juga untuk menambah penghasilan suami yang bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan farmasi di kota Lawang.

Usahanya berjalan baik dan mempunyai banyak pelanggan. “Bagi kami tidak masalah untung sedikit, yang penting pelanggannya tambah banyak,” ucap Lian. Genap dua tahun, Lian kemudian memutuskan untuk pindah berjualan dengan menyewa kios kecil di pasar dekat lokasi lamanya berjualan. Tak perlu waktu lama untuk membuat warungnya menjadi ramai, karena sebagian besar pelanggan lama masih setia makan di warungnya.

Pensiun Dini

Didorong keinginan untuk lebih serius membantu usaha warung yang dirintis isterinya, Bambang Suryantoro mengambil keputusan untuk pensiun dini dari perusahaan tempatnya bekerja. Bermodalkan uang pesangon, ia membeli sebuah mobil minibus Hijet yang dirombaknya menjadi warung pecel berjalan. Total ia menghabiskan dana Rp. 30 juta. “Waktu itu kami lihat jualan nasi pecel di atas mobil lebih menguntungkan karena tidak perlu sewa tempat dan bisa berpindah-pindah. Lagi pula jualan nasi dengan mobil belum banyak dilakukan orang pada saat itu,” terang Bambang.

Namun, seiring perjalanan waktu Lian dan Bambang mengangankan untuk mengembangkan bisnisnya lebih besar lagi. Setelah melakukan survey ke berbagai lokasi di kota Malang akhirnya diputuskan untuk berjualan di pasar Bunul. Pertimbangannya di sana banyak perumahan dan diharapkan banyak penghuni yang menjadi pelanggannya. Benar saja, tak perlu waktu lama usaha jualan nasi pecelnya berkembang pesat. Omzet penjualannya juga terus meningkat berkat kerja keras mereka.

Walaupun usaha jualan nasi pecelnya bisa dibilang mulai mapan, namun Lian masih memendam keinginan untuk bisa mempunyai sebuah warung permanen. Lian pun mulai menyisihkan hasil keuntungannya, menerapkan pola hidup hemat dan tak lupa sepanjang malam berdoa.

Membeli Ruko

Dari hasil kerja kerasnya selama tujuh tahun berjualan di atas mobil, Lian mampu mewujudkan impiannya membeli sebuah ruko seharga Rp. 100 juta di Jl Hamid Rusdi Kav No 1 Malang tak jauh dari pasar Bunul. Ruko baru tersebut dijadikan warung makanan yang diberi nama warung “LIAN”. “Agar pelanggan yang sudah kenal saya mudah mencarinya,” begitu alasan Lian tentang nama warungnya itu. Tidak sebatas pecel, Lian mulai mengembangkan aneka masakan khas Jawa lainnya.

Awal berjualan di warung baru tidaklah mudah karena saat itu bertepatan dengan bulan puasa Ramadhan. Tapi, karena warung adalah satu-satunya pekerjaan yang dijalaninya maka Lian tak putus asa, dia terus saja berjualan. Minggu pertama berjualan warungnya sepi pembeli. Namun menjelang akhir bulan puasa pembelinya mulai banyak. Selain pembeli non muslim yang memang tidak menjalankan puasa di siang hari, tak sedikit pembeli muslim yang membeli masakan untuk dibawa pulang sebagai menu berbuka puasa. Di luar dugaan, bulan pertama berjualan Lian mampu memperoleh pendapatan yang lumayan.

Dalam kurun waktu 3 tahun setelah warung “Lian” beroperasi, Lian mampu mengembangkan usahanya dengan membeli sebuah ruko baru di Jl. Patimura No 60 C Malang seharga Rp. 800 juta. Ditambah dengan biaya perbaikan dan pembelian perlengkapan warung sebesar Rp. 200 juta, ia mengeluarkan modal sebesar satu milyar Rupiah untuk ruko barunya yang berlantai dua tersebut. Modal sebesar itu diperoleh dari hasil uang tabungan dan dana pinjaman bank. Jadilah ruko baru itu menjadi warung “LIAN” kedua yang dijadikan pusat untuk mengelola usaha.

Ada kejadian unik, waktu pembukaan warung ini bersamaan dengan sebuah acara militer di Lapangan Rampal dekat warungnya yang dihadiri oleh rombongan Lantamal dari Surabaya. Tanpa direncanakan sebelumnya, acara pembukaan warung menjadi sangat ramai ketika rombongan Lantamal tersebut mampir dan makan di warung “Lian”. Momen tersebut menjadi perhatian masyarakat yang lewat dan secara otomatis membuat warung “Lian” di tempat baru ini cepat dikenal.

Nah, sebenarnya kamu juga bisa memulai usaha dengan cara yang lebih mudah. Sekarang adalah jamannya Instagram. Banyak artis selebgram yang sudah terkenal gara-gara aplikasi ini. Memulai bisnis tidaklah selalu harus dipikirkan secara rumit. Mulai dengan sesuatu yang kecil dan sederhana, yang nantinya akan menjadi besar, mau dimulai secara online ataupun offline.

Coba simak “Kunci Keberhasilan dan Kiat Sukses Waroeng Lian”

Kunci Keberhasilan dan Kiat Sukses Waroeng Lian

“Menjaga kualitas makanan dan bersikap ramah kepada semua pengunjung adalah kiat kami menjalankan bisnis makanan ini,” terang Lian mengenai kiatnya menjalankan bisnisnya.

Saat ini untuk menjalankan usaha dua warungnya Lian dibantu oleh lima orang juru masak yang sudah dididiknya dengan sangat baik dan sepuluh orang karyawan. Selain itu, dua orang anaknya Nike dan Niko juga ikut terlibat langsung membantu pengelolaan warung. Setiap hari warung “Lian” buka mulai jam 06.00 pagi sampai jam 17.00 sore. Dalam sehari, warung “Lian” bisa menghabiskan beras sebanyak 1 sampai 1.5 kwintal; 40 kg gula, 4 peti telur, dan lain-lain. Semua bahan-bahan tersebut dipasok oleh mitra kerjanya, kecuali sayur dan ikan segar yang ia beli langsung di pasar.

Dengan strategi selalu menjaga kualitas masakan dan berusaha memuaskan setiap pelanggan, Sunarlian yang dibantu oleh suami dan dua orang anaknya ini terus berusaha mengelola bisnis warungnya dengan baik. Masukan dan kritik dari pelanggan diterima dengan baik. Lian berharap bisnis warung yang dikelolanya bisa berkembang lebih besar lagi di masa mendatang.

Semoga perjalanan dan kegigihan Sunarlian dan Bambang Suryantoro dengan warung “Lian”-nya bisa menggugah dan menginspirasi anda.

8 Kiat Sukses Berwirausaha Waroeng “Lian”

Sunarlian dan suaminya, Bambang Suryantoro, membagikan kiat keberhasilan mereka mengembangkan usaha rumah makan prasmanan Waroeng “LIAN”:

Kerja keras. Sebuah keberhasilan mustahil diraih tanpa kemauan kuat dan kerja keras. Di awal-awal menjalankan usaha nasi pecelnya, mulai jam 3 pagi, Lian sudah harus mulai belanja, memasak, lalu berjualan. Seusai berjualan, ia masih harus menyiapkan segala sesuatu untuk esok hari. Semuanya baru benar-benar bisa rampung menjelang tengah malam. “Saya sempat iri pada istri-istri orang lain. Mereka bisa tidur nyenyak setiap hari bersama keluarganya, sementara saya sudah harus bangun dan bekerja, apalagi waktu itu anak-anak masih kecil,” terang Lian sambil menerawang jauh. Namun semua itu bisa diatasi dengan satu keyakinan bahwa suatu ketika dia pasti akan menikmati hasil dari kerja kerasnya.

Disiplin tinggi. Apa jadinya bila seorang pengusaha warung tidak memiliki sikap disiplin yang baik. Misalnya jam buka warung tidak menentu kadang pagi, kadang siang, atau malam, tentu saja dalam waktu singkat dia akan ditinggalkan pelanggan yang kecewa. Lian sadar betul tentang pentingnya arti disiplin ini. Oleh karena itu agar pelanggannya tidak kecewa dia selalu tepat waktu untuk mulai buka warung jam 6 pagi. Satu bentuk sikap disiplin yang sudah dijalani Lian sejak dua puluh tahun silam.

Terus menjaga kualitas. Hal ini dilakukan dengan selalu mengawasi bahan dan bumbu-bumbu yang digunakan, termasuk proses mengolah masakan. Semua harus sesuai dengan resepnya. Meski harga bahan-bahan di pasar mengalami kenaikan, Lian tidak pernah mau mengurangi bahan atau bumbu masakan demi menjaga kualitas masakan. Sebagai upaya untuk menjaga kualitas, Lian mendidik pegawainya agar menjadi juru masak trampil. Untuk itu, mereka pun digaji besar agar loyal.
Melayani pembeli dengan senyuman. Seorang penjual yang baik harus pintar mengambil hati pembeli agar mau membeli dagangannya. Caranya adalah melayani pembeli dengan senyuman ramah dan pelayanan sepenuh hati. Bila pembeli sudah diperlakukan dengan baik, mereka pasti akan terkesan dan puas yang pada akhirnya akan kembali lagi di lain waktu.

Terus belajar mengembangkan diri. Walaupun warung “Lian” kini maju, bukan berarti Sunarlian dan Bambang sudah cukup berpuas diri. Mereka merasa masih belum sempurna dan perlu belajar agar bisa berkembang lebih baik lagi. Untuk itu mereka membeli banyak buku resep masakan dan berkunjung ke warung, rumah makan, atau restoran lain untuk sekedar makan malam berdua sekaligus belajar. Sebaliknya, Lian dan Bambang tak berberat hati berbagi pengalaman bila ada pengusaha rumah makan lain yang ingin belajar dan berdiskusi seputar bisnis warung makanan.

Siap menerima kritik dan masukan dari pelanggan. Kritik adalah bagian dari kepedulian pelanggan terhadap kekurangan yang mereka rasakan. Atas setiap kritik, Lian menerima dengan lapang dada dan memberikan penjelasan pada apa yang dikeluhkan pelanggan.

Manajemen yang baik. Sebuah kegiatan usaha warung makan akan bisa berjalan baik jika didukung dengan manajemen yang baik. Adanya satu sistim pencatatan yang baik tentang pengeluaran dan pendapatan warung setiap hari akan memudahkan pemilik untuk mengetahui kondisi perkembangan warungnya dalam keadaan untung atau rugi.

Jangan lupa berdoa. Sekeras apapun usaha kita bila belum dikehendaki oleh Tuhan, maka kita belum bisa mereguk sukses. “Saya selalu berdo’a sepanjang malam kepada Tuhan,” begitu terang Lian. “Dan bila apa yang kita inginkan sudah dikabulkan oleh Tuhan, jangan lupa untuk bersyukur,” Imbuhnya. Salah satu kebiasaan di warung “Lian” adalah tidak pernah menyimpan masakan. Sisa makanan dalam suatu hari bebas dibawa pulang oleh pegawainya. Sebagian dijadikan nasi bungkus untuk dibagi-bagikan kepada tukang becak, pengamen, dan tuna wisma yang mangkal di sekitar lokasi usaha.

Wisata Agro Lebah

peternakan-tawon-rimba-raya

Kini produksi madu Peternakan Tawon Rimba Raya bisa mencapai 1.5 sampai 7 ton per bulan tergantung cuaca. Sebagian produksi madu dijual di toko milik Hariono dengan harga jual bervariasi mulai dari Rp. 55.000 sampai Rp. 120.000 per botol 600 ml sesuai jenisnya. Sebagian besar dijual curah ke Jakarta, Bogor, dan Bandung yang mencapai 60% dari total produksi. Keluarga Hariono pun mulai merasakan manisnya ketekunan berbisnis madu asli yang dirintis bertahun-tahun lalu. Omset usaha madunya sekarang berkisar antara Rp 30 juta sampai Rp. 90 juta setiap bulannya. Luar biasa bukan?

Selain madu dan lebah, Hariono menghasilkan produk turunan lebah lainnya yang terbilang inovatif, yaitu: Bee Pollen, Royal Jelly dan Propolis. Bee Pollen adalah serbuk sari bunga jantan yang dikumpulkan lebah di kantong kaki untuk makanan. Mengandung 21 jenis asam amino, 14 jenis vitamin, 11 mineral, dan 18 enzim alami. Bee Pollen baik untuk pencernaan, kecerdasan, kesuburan, mengatasi gangguan kurang darah, dan diabetes, serta dapat pula digunakan sebagai masker kulit dan terapi diet.

Royal Jelly adalah cairan yang dikeluarkan lebah pekerja untuk menyuapi ratu agar subur dan hidup jauh lebih lama dari pekerja. Usia ratu lebah sekitar 6 tahun, lebah pekerja 45 hari, dan lebah pejantan 60 hari. Royal jelly bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dari serangan virus dan bakeri, perbaikan jaringan tubuh dan sistim reproduksi pria dan wanita, menghambat penuaan dini, serta mengatasi diabetes. Sedangkan Propolis adalah getah pupus daun dan kuncup bunga yang dikumpulkan lebah sebagai herbal untuk melindungi diri dari berbagai penyakit. Bagi manusia Propolis bermanfaat dalam pengobatan alergi karena makanan, obat, debu, dingin, exim, dan juga untuk infeksi, radang tenggorokan, sariawan, maag, dan lain-lain. Dalam setiap produknya Hariono selalu menyertakan brosur yang menjelaskan berbagai khasiat dan kegunaan masing-masing produknya.

Tahun 2008 Hariono semakin mengembangkan usahanya dengan membuka “Wisata Agro” pada area perkebunan seluas 6,5 hektar di belakang rumah sekaligus tokonya. Di tempat ini pengunjung bisa bertanya dan belajar tentang banyak hal terkait dengan ternak lebah. Pengunjung yang datang dalam sebulan bisa mencapai 500-1000 orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Bakan ada pula yang datang dari menca negara khusus untuk melihat peternakan lebah dan berbagai jenis tanaman yang ada di tempat ini.

Yang tak kalah mengagumkan, semua pengembangan usaha ini dilakukan oleh Hariono semata-mata dimodali dari keuntungan berjualan madu asli. “Saya tidak pernah memanfaatkan bantuan modal pemerintah atau pinjaman dari bank,” begitu jelas Hariono. Mengenai prospek, Hariono masih cukup yakin dapat dijadikan sebagai bisnis yang menjanjikan asal selalu dilakukan diversifikasi produk dan menjaga alam agar tersedia berbagai tanaman dan lingkungan yang dibutuhkan untuk beternak lebah.

Terbukti, betapa manisnya bisnis madu asli. Kuncinya adalah ketekunan untuk terus belajar dan berusaha, menumbuhkan kepercayaan konsumen, memperluas variasi serta meningkatkan nilai tambah produk dan tentu saja menjaga keharmonisan dengan alam dan lingkungan sekitar.

Inspirasi Usaha Dari Bisnis Madu Ke Wisata Agro Lebah

Upaya menumbuhkan kepercayaan pelanggan akan keaslian madu produksinya membuat Hariono menemukan cara kreatif dalam berbisnis. Kini Peternakan Tawon Rimba Raya menjadi penghasil madu yang disegani.

hariono-dari-bisnis-madu-ke-wisata-agro-lebah“Sampai saat ini belum ada cara yang tepat untuk membedakan madu asli dan madu buatan,” demikian terang Hariono, pemilik Peternakan Tawon Rimba Raya. “Banyaknya informasi tentang cara-cara membedakan madu asli dan madu palsu adalah opini yang dihembuskan oleh penjual madu bukan peternak lebah dengan tujuan untuk mendongkrak penjualan madu. Ironisnya, informasi tersebut sudah terlanjur dipercayai oleh masyarakat luas.” Memang tidak mudah bagi orang kebanyakan bisa membedakan madu asli dan palsu. “Apalagi, lebih dari 50% madu yang beredar saat ini bukan madu asli,” lanjut Hariono.

Namun Hariono berani memastikan bahwa madu yang dijual di kiosnya adalah asli karena berasal dari peternakan dan pembibitan lebah miliknya sendiri. Dalam kios yang terletak di sebelah barat jalan raya Surabaya Malang, tepatnya di jalan Dr. Wahidin, kota Lawang, selain menjual aneka macam madu, Hariono juga membuka wisata agro tawon atau lebah dimana para pengunjung bisa secara gratis melihat langsung berbagai hal yang berkaitan dengan peternakan lebah dan pengolahan madunya.

Bukan hanya itu, Hariono pun menyediakan berbagai produk kesehatan yang berasal dari lebah serta terapi akupunktur. Tak heran jika pengunjung yang datang silih berganti di kiosnya bukan sekedar membeli madu, melainkan juga berkonsultasi kesehatan. Mereka meyakini madu produksi Hariono bisa mengatasi berbagai keluhan penyakit. Kios “Rimba Raya” pun menjadi tempat jujugan mereka yang ingin mendapatkan madu asli dan berkhasiat.

Tentu tidak mudah membangun usaha sehingga mendapat kepercayaan begitu tinggi dari para konsumen. Namun tahukah anda usaha peternakan lebah dan madu keluarga Hariono ini bermula dari iseng belaka. Tidak ada impian saat itu bahwa usaha ini kelak menjadi satu bisnis yang memiliki prospek bagus dan memberikan penghasilan yang menjanjikan.

Bermula Dari 10 Glodok Lebah

Cerita bermula pada sekitar tahun 80-an, Gunawan, ayah Hariono, yang bekerja sebagai mandor proyek pembangunan sebuah pabrik tekstil di Lawang membeli 10 glodok lebah hasil tangkapan salah seorang pegawainya. Karena masih belum mengerti sama sekali cara beternak lebah, maka glodok-glodok (kayu yang dilubangi untuk rumah lebah) itu dibiarkan begitu saja digantung di pagar halaman rumahnya. Ketika waktunya tiba, dibantu oleh pegawainya tadi, Gunawan memanen madu. Satu glodok bisa menghasilkan 6 kg madu.

Tapi yang pada awalnya banyak dicari oleh pembeli bukan madu melainkan tolo (larva lebah) yang oleh warga sekitar kota Lawang banyak dijadikan lauk (bothok tolo) untuk selamatan. Mengetahui Gunawan juga menyediakan madu yang sudah dikemas dalam botol, mereka yang semula membeli tolo pun mulai membeli madu. Glodok-glodok yang digantung di pagar rumah di pinggir jalan raya rupanya juga mengundang perhatian pengguna jalan dari luar kota. Ada saja yang berhenti dan mencari tahu apakah rumah Gunawan menjual madu.

Tahun-tahun berikutnya Gunawan membeli dan menampung lebih banyak lagi lebah. Namun ini memunculkan masalah baru, anak-anak Gunawan, termasuk Hariono yang masih berumur sekitar enam tahun sering lebam tersengat lebah. Keadaan ini membuat istri Gunawan keberatan. Untuk mengatasi hal ini sebagian lebah dititipkan di desa lain. Gunawan mulai menjalin kerja sama dengan warga desa dengan cara membeli lebah namun perawatan tetap dilakukan oleh mereka. Dan bila waktu panen madu tiba, Gunawan datang dan mengambil madunya saja.

Ada lima lokasi peternakan lebah yang dimiliki oleh Gunawan. Perkembangan besar dimulai sejak tahun 1985. Salah seorang teman Gunawan, Awkarin dan seorang dokter dari China, datang ke Indonesia sebagai dokter sosial untuk membantu pengobatan masyarakat. Dokter ini kebetulan mengerti dan mau mengajari Gunawan ilmu dan seluk beluk beternak lebah yang benar. Salah satunya adalah dengan angon, yaitu mengembala lebah dengan cara berpindah-pindah lokasi yang terdapat tanaman berbunga dan banyak sari madunya. Dengan cara ini produksi madu meningkat drastis lima kali lipat. Salah satu ucapan dokter yang sangat diingat oleh Hariono adalah bahwa “ternak lebah adalah bisnis yang potensial di Cina.” Ini yang membuat keluarga Gunawan semakin serius mengelola peternakan lebah dan bisnis madu.

Metode peternakan lebah pun semakin diperbaiki. Termasuk merombak kotak lebah. “Ini membutuhkan modal lumayan banyak, karena kotak lebah yang kami miliki sesuai petunjuk buku adalah kotak lebah Australia, sedangkan lebah yang kami ternak jenis lebah lokal,” kenang Hariono yang kini memegang tampuk pengelolaan usaha yang dirintis oleh orang tuanya. Peternakan lebah Hariono pun berkembang pesat. Tapi melimpahnya hasil produksi ini tidak begitu saja dibarengi dengan kenaikan penjualan. “Waktu itu menjual madu sangat sulit karena kepercayaan masyarakat sangat kecil. Orang banyak tidak percaya dengan keaslian madu kami,” demikian kenang Hariono. Padahal harga madu saat itu sudah bisa mendekati harga gula pada kisaran Rp. 1500 per kg.
Keluarga Hariono terus mencari cara agar kepercayaan masyarakat akan keaslian madu produksinya tmbuh. “Karena stok berlebih, akhirnya kami menjual madu dengan sarangnya. Akibatnya produksi madu kami turun 50% namun itu tidak masalah karena kepercayaan orang mulai tumbuh,” kata Hariono menjelaskan strategi bisnisnya.

Tahun berikutnya keluarga Hariono mengembangkan kios madunya menjadi toko buah. Ternyata menjual rambutan, langsep, mangga dan sebagainya membuat madunya menjadi lebih dikenal orang. Setiap pembeli buah akhirnya tertarik membeli madu.

Post Lanjutan Mengenai Wisata Agro Lebah

Ide Bisnis Pengingat Obesitas dan iPod

Thrive Portion Ware Pengingat Obesitas

thrive-portion-ware-pengingat-obesitas

Obesitas adalah masalah kesehatan dan sosial bagi beberapa bagian masyarakat. Sally Ng berusaha mengingatkan kita pada masalah ini melalui desain produk sederhana, namun penuh ras humor, jauh dari kesan ofensif.

Sebuah ide serius tidak melulu menghasilkan produk yang serius. Desain karya Sally Ng dari California College of the Arts ini bermula dari keprihatinan pada meluasnya gejala obesitas di beberapa bagian dunia.
Obesitas atau kegemukan merupakan salah satu masalah kesehatan dan sosial. Tidak ada solusi tunggal untuk memecahkan masalah obesitas.

Namun Sally Ng dengan karya Thrive Portion Ware mencoba mengingatkan kita agar selalu berhati-hati dengan sumber obesitas, yaitu perilaku kita dalam menyantap makanan dan minuman.

Oleh karena itu, Sally Ng mendesain piring dan gelas sedemikian rupa agar kita bisa mengurangi porsi makan dan minum. Piring Thrive Portion Ware tidak sepenuhnya bulat. Seperlima bagian dari piring tersebut berbentuk cembung ke atas, demikian pula gelas Sally Ng. Dengan demikian diharapkan kita bisa mengurangi porsi makan setidaknya 20%.
Sebuah ide serius yang disampaikan dengan cara sederhana dan penuh rasa humor, jauh dari kesan ofensif.

Cassette To iPod Menghidupkan Lagi Era 80-an

cassette-to-ipod-menghidupkan-lagi-era-80-an

Menghadirkan kembali masa lampau dalam media mutakhir adalah salah satu sumber ide. Cassette to iPod adalah produk yang mengawinkan iPod, produk populer tahun 2000an, dengan kaset, simbol era tahun 80an.

iPod adalah produk mutakhir simbol era tahun 2000-an untuk mendengarkan musik. Meski sudah lebih dari sepuluh tahun iPod diperkenalkan, popularitas alat ini masih tetap belum pudar. Sebaliknya kaset adalah media untuk mendengarkan musik yang sangat populer di tahun 70-80an. Puncak popularitas kaset terjadi ketika Sony menciptakan Walkman yang menjadi simbol gaya hidup anak muda waktu itu.

Kini kaset sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan. Hampir sudah tidak ada lagi toko musik yang menjual kaset. Namun demikian jumlah koleksi kaset yang disimpan oleh para pecinta musik dari tahun 80-an terbilang luar biasa banyak. Bagaimana para pecinta musik dari tahun 80-an dapat menikmati koleksi musik mereka dengan media modern iPod?

Kita bisa saja mencari koleksi musik di internet. Namun ini sedikit memakan waktu, terlebih lagi bila kaset anda adalah koleksi musik langka.

Cassette To iPod berusaha menghidupkan lagi gairah tahun 80-an. Caranya mudah, masukkan kaset dalam alat ini, dan selipkan iPod anda di sisi yang lain, maka ia akan memindahkan musik dari kaset ke iPod dalam format MP3. Alat ini juga bisa memindahkan musik dari kaset ke komputer. Melalui software yang disediakan, alat ini dapat bekerja pada sistem operasi Windows 7, Vista, XP juga Mac.

Ukuran alat ini mengingatkan kita pada era Walkman dari Sony. So, selamat bernostalgia.