Inspirasi Usaha Dari Bisnis Madu Ke Wisata Agro Lebah

Upaya menumbuhkan kepercayaan pelanggan akan keaslian madu produksinya membuat Hariono menemukan cara kreatif dalam berbisnis. Kini Peternakan Tawon Rimba Raya menjadi penghasil madu yang disegani.

hariono-dari-bisnis-madu-ke-wisata-agro-lebah“Sampai saat ini belum ada cara yang tepat untuk membedakan madu asli dan madu buatan,” demikian terang Hariono, pemilik Peternakan Tawon Rimba Raya. “Banyaknya informasi tentang cara-cara membedakan madu asli dan madu palsu adalah opini yang dihembuskan oleh penjual madu bukan peternak lebah dengan tujuan untuk mendongkrak penjualan madu. Ironisnya, informasi tersebut sudah terlanjur dipercayai oleh masyarakat luas.” Memang tidak mudah bagi orang kebanyakan bisa membedakan madu asli dan palsu. “Apalagi, lebih dari 50% madu yang beredar saat ini bukan madu asli,” lanjut Hariono.

Namun Hariono berani memastikan bahwa madu yang dijual di kiosnya adalah asli karena berasal dari peternakan dan pembibitan lebah miliknya sendiri. Dalam kios yang terletak di sebelah barat jalan raya Surabaya Malang, tepatnya di jalan Dr. Wahidin, kota Lawang, selain menjual aneka macam madu, Hariono juga membuka wisata agro tawon atau lebah dimana para pengunjung bisa secara gratis melihat langsung berbagai hal yang berkaitan dengan peternakan lebah dan pengolahan madunya.

Bukan hanya itu, Hariono pun menyediakan berbagai produk kesehatan yang berasal dari lebah serta terapi akupunktur. Tak heran jika pengunjung yang datang silih berganti di kiosnya bukan sekedar membeli madu, melainkan juga berkonsultasi kesehatan. Mereka meyakini madu produksi Hariono bisa mengatasi berbagai keluhan penyakit. Kios “Rimba Raya” pun menjadi tempat jujugan mereka yang ingin mendapatkan madu asli dan berkhasiat.

Tentu tidak mudah membangun usaha sehingga mendapat kepercayaan begitu tinggi dari para konsumen. Namun tahukah anda usaha peternakan lebah dan madu keluarga Hariono ini bermula dari iseng belaka. Tidak ada impian saat itu bahwa usaha ini kelak menjadi satu bisnis yang memiliki prospek bagus dan memberikan penghasilan yang menjanjikan.

Bermula Dari 10 Glodok Lebah

Cerita bermula pada sekitar tahun 80-an, Gunawan, ayah Hariono, yang bekerja sebagai mandor proyek pembangunan sebuah pabrik tekstil di Lawang membeli 10 glodok lebah hasil tangkapan salah seorang pegawainya. Karena masih belum mengerti sama sekali cara beternak lebah, maka glodok-glodok (kayu yang dilubangi untuk rumah lebah) itu dibiarkan begitu saja digantung di pagar halaman rumahnya. Ketika waktunya tiba, dibantu oleh pegawainya tadi, Gunawan memanen madu. Satu glodok bisa menghasilkan 6 kg madu.

Tapi yang pada awalnya banyak dicari oleh pembeli bukan madu melainkan tolo (larva lebah) yang oleh warga sekitar kota Lawang banyak dijadikan lauk (bothok tolo) untuk selamatan. Mengetahui Gunawan juga menyediakan madu yang sudah dikemas dalam botol, mereka yang semula membeli tolo pun mulai membeli madu. Glodok-glodok yang digantung di pagar rumah di pinggir jalan raya rupanya juga mengundang perhatian pengguna jalan dari luar kota. Ada saja yang berhenti dan mencari tahu apakah rumah Gunawan menjual madu.

Tahun-tahun berikutnya Gunawan membeli dan menampung lebih banyak lagi lebah. Namun ini memunculkan masalah baru, anak-anak Gunawan, termasuk Hariono yang masih berumur sekitar enam tahun sering lebam tersengat lebah. Keadaan ini membuat istri Gunawan keberatan. Untuk mengatasi hal ini sebagian lebah dititipkan di desa lain. Gunawan mulai menjalin kerja sama dengan warga desa dengan cara membeli lebah namun perawatan tetap dilakukan oleh mereka. Dan bila waktu panen madu tiba, Gunawan datang dan mengambil madunya saja.

Ada lima lokasi peternakan lebah yang dimiliki oleh Gunawan. Perkembangan besar dimulai sejak tahun 1985. Salah seorang teman Gunawan, Awkarin dan seorang dokter dari China, datang ke Indonesia sebagai dokter sosial untuk membantu pengobatan masyarakat. Dokter ini kebetulan mengerti dan mau mengajari Gunawan ilmu dan seluk beluk beternak lebah yang benar. Salah satunya adalah dengan angon, yaitu mengembala lebah dengan cara berpindah-pindah lokasi yang terdapat tanaman berbunga dan banyak sari madunya. Dengan cara ini produksi madu meningkat drastis lima kali lipat. Salah satu ucapan dokter yang sangat diingat oleh Hariono adalah bahwa “ternak lebah adalah bisnis yang potensial di Cina.” Ini yang membuat keluarga Gunawan semakin serius mengelola peternakan lebah dan bisnis madu.

Metode peternakan lebah pun semakin diperbaiki. Termasuk merombak kotak lebah. “Ini membutuhkan modal lumayan banyak, karena kotak lebah yang kami miliki sesuai petunjuk buku adalah kotak lebah Australia, sedangkan lebah yang kami ternak jenis lebah lokal,” kenang Hariono yang kini memegang tampuk pengelolaan usaha yang dirintis oleh orang tuanya. Peternakan lebah Hariono pun berkembang pesat. Tapi melimpahnya hasil produksi ini tidak begitu saja dibarengi dengan kenaikan penjualan. “Waktu itu menjual madu sangat sulit karena kepercayaan masyarakat sangat kecil. Orang banyak tidak percaya dengan keaslian madu kami,” demikian kenang Hariono. Padahal harga madu saat itu sudah bisa mendekati harga gula pada kisaran Rp. 1500 per kg.
Keluarga Hariono terus mencari cara agar kepercayaan masyarakat akan keaslian madu produksinya tmbuh. “Karena stok berlebih, akhirnya kami menjual madu dengan sarangnya. Akibatnya produksi madu kami turun 50% namun itu tidak masalah karena kepercayaan orang mulai tumbuh,” kata Hariono menjelaskan strategi bisnisnya.

Tahun berikutnya keluarga Hariono mengembangkan kios madunya menjadi toko buah. Ternyata menjual rambutan, langsep, mangga dan sebagainya membuat madunya menjadi lebih dikenal orang. Setiap pembeli buah akhirnya tertarik membeli madu.

Post Lanjutan Mengenai Wisata Agro Lebah

caribbeanconnection2002

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *