Sukses dan Terkenal Ala Warung Lian

Siapa nyana, hanya bermula dari berjualan nasi pecel di atas mobil, Sunarlian kini mampu mengelola dua rumah makan prasmanan yang menyajikan tak kurang dari 50 jenis masakan khas Jawa yang terkenal di Malang.

sunarlian-waroeng-lian-berawal-dari-jualan-pecel-di-mobilBagi anda yang hobi wisata kuliner dan penggemar berat aneka masakan khas Jawa, belum lengkap rasanya kalau belum mampir ke rumah makan prasmanan warung “Lian”, yang ada di kota Malang, Jawa Timur. Ada sekitar 50 jenis masakan khas Jawa yang siap memanjakan lidah anda. Soal rasa jangan ditanya, karena warung tersebut memiliki seorang koki handal yang betul bagaiamana memasak aneka resep masakan khas jawa. Dialah Sunarlian yang tidak lain adalah pemilik warung “Lian” ini.

Selain rasanya enak, harga tiap porsi makanan di warung “Lian” tergolong murah, berkisar Rp 4.500 sampai Rp. 12.500, tergantung dari lauk yang dipilih. Misal, satu porsi nasi pecel dihargai Rp 5.000, nasi urap Rp 4.500, nasi rames Rp 7.000, nasi krengsengan 8.500, nasi lodeh ikan tenggiri Rp 10.000 dan nasi balado mujaer Rp 12.500. Semua harga makanan dan minuman terpampang jelas di daftar menu. Untuk menu makanan yang dipilih sendiri oleh pembeli, harga akan disesuaikan.

Di warung “Lian” pembeli bisa mengambil sendiri makanan sesuai selera untuk dinikmati di tempat atau dibawa pulang. Pelanggannya sangat banyak, datang berbagai lapisan masyarakat mulai dari ibu rumah tangga sampai pekerja kantoran. Tidak hanya dari kota Malang saja, banyak pelanggan berasal dari luar Malang yang memang sengaja mampir ke warung “Lian”.
Keberhasilan bisnis warung makanan ala prasmanan yang diraih oleh Sunarlian ini tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses yang panjang dan berliku. Awalnya, Lian, begitu ia biasanya dipanggil, ditemani oleh suaminya Bambang Suryantoro, merintis usaha berjualan nasi pecel lebih dari 20 tahun lalu. Warung pecel pertamanya berdiri di dekat kantor PDAM kota Lawang, sekitar taun 1989. Hal itu dilakukan selain karena ingin mengembangkan hobi memasaknya, juga untuk menambah penghasilan suami yang bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan farmasi di kota Lawang.

Usahanya berjalan baik dan mempunyai banyak pelanggan. “Bagi kami tidak masalah untung sedikit, yang penting pelanggannya tambah banyak,” ucap Lian. Genap dua tahun, Lian kemudian memutuskan untuk pindah berjualan dengan menyewa kios kecil di pasar dekat lokasi lamanya berjualan. Tak perlu waktu lama untuk membuat warungnya menjadi ramai, karena sebagian besar pelanggan lama masih setia makan di warungnya.

Pensiun Dini

Didorong keinginan untuk lebih serius membantu usaha warung yang dirintis isterinya, Bambang Suryantoro mengambil keputusan untuk pensiun dini dari perusahaan tempatnya bekerja. Bermodalkan uang pesangon, ia membeli sebuah mobil minibus Hijet yang dirombaknya menjadi warung pecel berjalan. Total ia menghabiskan dana Rp. 30 juta. “Waktu itu kami lihat jualan nasi pecel di atas mobil lebih menguntungkan karena tidak perlu sewa tempat dan bisa berpindah-pindah. Lagi pula jualan nasi dengan mobil belum banyak dilakukan orang pada saat itu,” terang Bambang.

Namun, seiring perjalanan waktu Lian dan Bambang mengangankan untuk mengembangkan bisnisnya lebih besar lagi. Setelah melakukan survey ke berbagai lokasi di kota Malang akhirnya diputuskan untuk berjualan di pasar Bunul. Pertimbangannya di sana banyak perumahan dan diharapkan banyak penghuni yang menjadi pelanggannya. Benar saja, tak perlu waktu lama usaha jualan nasi pecelnya berkembang pesat. Omzet penjualannya juga terus meningkat berkat kerja keras mereka.

Walaupun usaha jualan nasi pecelnya bisa dibilang mulai mapan, namun Lian masih memendam keinginan untuk bisa mempunyai sebuah warung permanen. Lian pun mulai menyisihkan hasil keuntungannya, menerapkan pola hidup hemat dan tak lupa sepanjang malam berdoa.

Membeli Ruko

Dari hasil kerja kerasnya selama tujuh tahun berjualan di atas mobil, Lian mampu mewujudkan impiannya membeli sebuah ruko seharga Rp. 100 juta di Jl Hamid Rusdi Kav No 1 Malang tak jauh dari pasar Bunul. Ruko baru tersebut dijadikan warung makanan yang diberi nama warung “LIAN”. “Agar pelanggan yang sudah kenal saya mudah mencarinya,” begitu alasan Lian tentang nama warungnya itu. Tidak sebatas pecel, Lian mulai mengembangkan aneka masakan khas Jawa lainnya.

Awal berjualan di warung baru tidaklah mudah karena saat itu bertepatan dengan bulan puasa Ramadhan. Tapi, karena warung adalah satu-satunya pekerjaan yang dijalaninya maka Lian tak putus asa, dia terus saja berjualan. Minggu pertama berjualan warungnya sepi pembeli. Namun menjelang akhir bulan puasa pembelinya mulai banyak. Selain pembeli non muslim yang memang tidak menjalankan puasa di siang hari, tak sedikit pembeli muslim yang membeli masakan untuk dibawa pulang sebagai menu berbuka puasa. Di luar dugaan, bulan pertama berjualan Lian mampu memperoleh pendapatan yang lumayan.

Dalam kurun waktu 3 tahun setelah warung “Lian” beroperasi, Lian mampu mengembangkan usahanya dengan membeli sebuah ruko baru di Jl. Patimura No 60 C Malang seharga Rp. 800 juta. Ditambah dengan biaya perbaikan dan pembelian perlengkapan warung sebesar Rp. 200 juta, ia mengeluarkan modal sebesar satu milyar Rupiah untuk ruko barunya yang berlantai dua tersebut. Modal sebesar itu diperoleh dari hasil uang tabungan dan dana pinjaman bank. Jadilah ruko baru itu menjadi warung “LIAN” kedua yang dijadikan pusat untuk mengelola usaha.

Ada kejadian unik, waktu pembukaan warung ini bersamaan dengan sebuah acara militer di Lapangan Rampal dekat warungnya yang dihadiri oleh rombongan Lantamal dari Surabaya. Tanpa direncanakan sebelumnya, acara pembukaan warung menjadi sangat ramai ketika rombongan Lantamal tersebut mampir dan makan di warung “Lian”. Momen tersebut menjadi perhatian masyarakat yang lewat dan secara otomatis membuat warung “Lian” di tempat baru ini cepat dikenal.

Nah, sebenarnya kamu juga bisa memulai usaha dengan cara yang lebih mudah. Sekarang adalah jamannya Instagram. Banyak artis selebgram yang sudah terkenal gara-gara aplikasi ini. Memulai bisnis tidaklah selalu harus dipikirkan secara rumit. Mulai dengan sesuatu yang kecil dan sederhana, yang nantinya akan menjadi besar, mau dimulai secara online ataupun offline.

Coba simak “Kunci Keberhasilan dan Kiat Sukses Waroeng Lian”

caribbeanconnection2002

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *